sveosportu.com

Aulia Hakim, Volunteer Euro 2024 asal Indonesia

Aulia Hakim, volunteer Euro 2024 asal Indonesia yang bertugas di Frankfurt. (Dok. Aulia Hakim/Skor.id)

- Jerman selama lebih dari sebulan ini, sejak Juni lalu hingga pertengahan Juli ini menjadi tuan rumah bagi publik dunia, khususnya Eropa.

Di negeri ini tengah digelar Euro 2024. Sebagai negeri penyelenggara Euro 2024, Jerman berusaha menjadi tuan rumah yang baik bagi tamu-tamu mereka, bagi pemain, tim sepak bola peserta, hingga fans yang datang dari penjuru dunia.

Jerman menjadi pusat perhatian dunia terkait Euro 2024 yang digelar di negeri ini. Nah, seperti juga di ajang internasional lainnya, dibutuhkan para volunteer.

Mereka, para volunteer merupakan sukarelawan yang membantu, menolong, tanpa mengharapkan keuntungan. Mereka adalah orang-orang spesial.

mendapatkan momen istimewa karena berkesempatan mewawancarai salah seorang volunteer Euro 2024 yang berasal dari Indonesia, seorang wanita bernama Aulia Hakim.

Aulia Hakim yang merupakan mahasiswa di Jerman bercerita tentang pengalamannya menjadi volunteer di ajang Euro 2024 ini melalui wawancara online bersama .

Wanita kelahiran Garut ini tinggal di Frankfurt, kota yang dikenal dengan klub Bundesliga (Liga Jerman), Eintracht Frankfurt.

Frankfurt merupakan salah satu kota yang menggelar pertandingan Euro 2024 dengan stadion kebanggaan kota ini, Stadion Deutsche Bank Park.

Sejak datang ke Jerman pada akhir 2021, Aulia Hakim sudah mengenal Frankfurt, kota yang menarik dan menjadi salah satu destinasi para turis mancanegara.

Bersama rekan-rekannya dari negara lain yang juga menjadi volunteer, Aulia Hakim adalah wajah pertama yang dilihat oleh para fans yang tiba di bandara atau di tempat-tempat lainnya.

Karena itulah, sebagai volunteer pula, tugasnya adalah menyambut mereka dengan memberikan bantuan seperti informasi tentang Euro 2024.

Bagaimana kisah menjadi volunteer di Euro 2024 ini? Berikut wawancara dengan Aulia Hakim yang menjadi volunteer di Kota Frankfurt:

Aulia Hakim, tugas sebagai volunteer seperti apa di Euro 2024 ini?

Untuk volunteer beragam ya, kalau saya dalam Euro 2024 ini sebagai volunteer Welcome Host City, tugas kami adalah menyambut fans internasional dari berbagai negara.

Kami memberikan informasi, melayani, sebagai wajah awal Jerman dalam menyambut fans internasional seperti di bandara, stasiun utama, di pusat kota.

Jadi, kami tidak hanya hanya menyambut seperti "Halo selamat datang di Frankfurt" tapi juga memberikan informasi. Atau mereka (fans) juga kadang bertanya, kalau mau ke stadion naik apa, pertandingan ini jam berapa.

Aulia Rahim, volunteer Euro 2024 asal Indonesia yang bertugas di bandara dan stasiun kereta Frankfurt. (Dok. Aulia Rahim)
Aulia Hakim (kiri bawah), volunteer Euro 2024 asal Indonesia yang bertugas di bandara dan stasiun kereta Frankfurt. (Dok. Aulia Hakim)

Semua itu pengalaman baru tentunya....

Ya, karena ini pekerjaan yang atmosfernya internasional. Biasanya berhubungan dengan orang Indonesia atau orang Jerman, kini dengan multinegara, multibahasa, menyambut fans dari berbagai negara merupakan pengalaman spesial.

Apalagi ini sepak bola internasional yang menjadi sorotan dunia. Jika prilaku kita jelek bisa viral. Jangan sampai orang yang lagi bertanya, lalu kami sebagai volunteer justru galak. Sikap seperti itu tidak hanya jelek bagi kami sebagai volunteer melainkan juga bagi institusi UEFA.

Bisa diceritakan bagaimana proses sebelum menjadi volunteer Euro 2024?

Kami diberikan pelatihan dalam dua hal, online dan offline. Online kami ada aplikasinya, kita dikasih pelatihan dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman.

Pelatihan pengetahuan seperti tentang sejarah UEFA, sejarah Piala Eropa, tim yang berlaga, hingga tentang kota Frankfurt.

Lalu ada offline, kami ada training beberapa kali, yang pertama training untuk pengenalan ajangnya sendiri. Jangan sampai kami tidak tahu event Piala Eropa itu seperti apa.

Lalu ada pelatihan tugas kami yang spesifik, seperti bagiamana sih tugas Wellcome Host, tugasnya bagaimana, di mana, bagaimana cara mengantisipasi seandainya kita menerima ujaran rasisme, atau perbuatan yang tidak menyenangkan.

Jadi benar-benar sih dipersiapkan, bahkan kami juga diberikan pelatihan Bahasa Jerman, khususnya untuk yang berasal dari wilayah yang punya bahasa daerahnya.

Yang hanya memahami Bahasa Jerman pun diberikan pelatihan Bahasa Inggris karena menyambut ajang internasional tentu menggunakan Bahasa Inggris. Jadi benar-benar disiapkan sama UEFA jangan sampai kita kosong saat turun ke lapangan.

Khawatir tentang sikap fans, misalnya hooligan Inggris....

Ada pasti, karena kita sudah mendengar cerita tentang fans Inggris, apalagi ini pertama kalinya saya merasakan pengalaman ini.

Tapi, menurut saya fans Inggris itu sebenarnya secara pribadi ramah banget, sopan banget. Tapi kalau sudah berkumpul wah rame, hahaha.... Seru banget, jiwa hooligan mereka membara.

Walau ada yang setengah mabuk, tapi mungkin mereka saat berkerumun juga melihat situasi, seperti adanya polisi jadi juga mereka hati-hati.

Polisi memang dikerahkan untuk menjaga sudut-sudut di kota Frankfurt. Berpakaian biasa untuk menjaga, dan berbaur.

Fans yang menyebalkan?

Yang menyebalkan? Belgia hahaha. Mungkin mereka secara pribadi karena tahu bahasa Jerman, bisa bahasa Prancis, Inggris, jadi seperti, 'udahlan ngga usah diganggu', mereka fans mandiri.

Aulia Rahim, volunteer Euro 2024 asal Indonesia yang bertugas di Frankfurt yang berfoto bersama para volunteer dari negara lain. (Dok. Aulia Rahim)
Aulia Hakim (baris kedua, kiri), volunteer Euro 2024 asal Indonesia yang bertugas di Frankfurt. (Dok. Aulia Hakim)

Turki lolos ke perempat final, dan banyak orang Turki di Jerman ya...

Ya, mereka terbanyak di Jerman, karena faktor sejarah ya. Saat tim negara mereka menang, mau mainnya di Frankfurt atau di luar Frankfurt, mereka langsung pawai, mengibarkan bendera, sampai tengah malam, mau hujan, orang-orang Turki semangatnya luar biasa.

Frankfurt kota seperti apa sih?

Frankfurt kota internasional, jadi menghadapi orang asing itu biasa dan banyak yang bisa Bahasa Inggris.

Mungkin kalau kota-kota yang di utara seperti Leipzig, sedikit memberikan tantangan. Mungkin akan sedikit lebih menantang bagi volunteer yang bukan orang Jerman atau orang Eropa lainnya.

Frankfurt dapat dikatakan kota multikultur dan di sini ada 20 negara yang tergabung sebagai volunteer.

Orang Indonesia yang jadi volunteer ada berapa?

Untuk khusus di Frankfurt ada dua saya dan teman saya yang bagian ticketing.

Adakah hal paling menyulitkan yang pernah dialami selama sebagai volunteer?

Alhamdulillah tidak ada. Tapi ya lumayan capai, hahaha. Seperti tugas di bandara. Bandaranya Frankfurt termasuk paling besar di Eropa.

Dan, saat ini lagi ramai banget. Karena selain menyambut tamu-tamu Euro 2024 juga bertepatan dengan musim panas, wisata ke Frankfurt lumayang tinggi.

Kalau di bandara misalnya, jika ada salah satu sarana yang tidak berfungsi seperti eskalator, jadi lebih ke arah capek aja, untuk kesulitan alhamdulillah tidak ada.

Aulia Rahim, volunteer Euro 2024 asal Indonesia yang bertugas di Frankfurt dan sedang melayani pengunjung. (Dok. Aulia Rahim)
Aulia Hakim, volunteer Euro 2024 asal Indonesia yang bertugas di Frankfurt dan sedang melayani pengunjung. (Dok. Aulia Hakim)

Pernah bertemu dengan orang Indonesia saat menjadi volunteer?

Pernah, satu keluarga dari Indonesia yang mau nonton pertandingan. Mereka bawa koper banyak, mau ke Kota Dortmund untuk menyaksikan pertandingan di sana, jadi saya arahkan dan bantu. Lalu kebetulan eskalatornya tidak berfungsi, jadi kasihan.

Volunteer dengan atribute yang dikenakan sudah sangat terlihat ya....

Dengan atribue seperti topi, ransel, ID card sangat kelihatan. Jadi fans itu sudah otomatis, fans sudah mendatangi kami. Bahkan, bukan hanya bertanya tentang informasi sepak bola atau pertandingan melainkan juga bertanya tentang arah jalan. Kami bantu semuanya.

Pertanyaan seperti apa dari mereka biasanya?

Beli tiket, harus naik apa ya? Atau mau ke hotel tertentu, jadi naik apa, mereka enggak tahu arah. Kita arahkan, bantu support.

Terkait waktu pekerjaan sebagi volunteer di Euro 2024 ini bagaimana?

Kami bekerja ada dua shift. Shift awal 9.30 sampai 3.30 sore, lalu jam 3 sampai jam 8 malam. Kalau teman yang di tiketing, hanya hari pertandingan, biasanya jam 1 siang sampai jam 6 sebelum pertandingan.

Kegiatan awal sebelum ke lapangan bagaimana?

Awalnya kami datang ke sekretariat, absen, kita breefing, lalu dapat pengugasan. Misalnya, saya di daerah ini, hari ini kamu di bandara, jadi awalnya tidak punya bayangan akan bertugas di mana.

Kalau outdoor, kita tidak bawa sunscreen, atau enggak bawa kaca mata, enggak bawa payung, aduh. Jadi mau ngga mau di ransel ini semua musti siap.

Bisa ceritakan ya, awalnya mengajukan diri menjadi volunteer?

Setelah mengetahui Jerman akan menjadi tuan rumah Piala Eropa, beberapa tahun lalu, saya saya coba ikut (mengajukan). Lalu saya diikirimi formulir oleh mereka, tahun 2023 dapat respons dari mereka.

Saya dapat panggilan interview Desember 2023, interview dipilih pakai Bahasa Jerman atau Inggris, saya memilih Bahasa Inggris.

Aulia Rahim, volunteer Euro 2024. (Dok. Aulia Rahim/).
Aulia Hakim, volunteer Euro 2024, mendapatkan pengalaman berharga selama menjalankan tugasnya di Frankfurt, Jerman. (Dok. Aulia Hakim/).

Ada pilihan untuk tugas volunteer ini?

Saya mengajukannya di media sosial, yang berkaitan dengan pers. Tapi ternyata membutuhkan bahasa Jerman yang lebih baik.

Saya juga ajukan untuk volunteer broadcast, karena saya memiliki basic di sana, pernah bekerja di televisi.

Namun untuk volunteer dengan bahasa Inggris adalah di welcome host, tiketing, dan fanzone.

Suka dukanya menjadi volunteer?

Saya punya pengalaman internasional, bekerja di ajang besar yang lingkupnya internasional, dapat networking, yang terkait dengan dunia sepak bola.

Lalu tentu ada merchandise yang bagus dan sponsornya juga bagus. Jadi kami dapat dari atas sampai bawah lengkap. Tas, sepatu, topi, jaket.

Semua dapat, termasuk tentu saja makan. Dan yang tidak ternilai adalah kami dapat pengalaman.

Kami juga merasakan bahwa ternyata secinta itu ya masyarakat sebuah negara terhadap timnas, luar biasa. Mengingatkan kembali tentang kita orang Indonesia yang cinta banget sama timnas.

Kami juga mendapatkan stadion tur, untuk tahu bagaimana stadion yang biasa digunakan klub Eintracht Frankfurt di Bundesliga tiba-tiba kini menjadi ajang UEFA.

Ada perbedaannya ya?

UEFA sampai mengubah sekitar 100 ruangan yang ada di stadion demi event ini, waktu perubahanntya tidak sampai 1 tahun. Baik itu mengubah warna, mengubah instalasi listrik, dan sebagainya.

Beda dengan Bundesliga yang lebih lokal dibandingkan dengan internasional seperti Piala Eropa tentunya.

Keuntungan lainnya, dengan ID saya, bisa keliling Frankfurt gratis ngga perlu tiket hahaha.

Yang sulitnya apa?

Pernah jalan sampai 18 kilometer, hahaha. Bulan Juni ini langkah kaki sampai belasan kilometer.

Berniat lagi jadi volunteer kalau ada ajang lainnya?

Minat juga sih, ada volunteer untuk Liga Champions menarik untuk dicoba. Kebetulan juga yang menarik sebagai volunteer, kami dapat prioritas, buat mendaftar kepelatihan di UEFA.

Harga pelatihan itu, untuk pelatih dan lain biayanya 7.000 sekian euro, jika dapat fasilitas itu, kami bisa ke Genewa.

Selama Euro 2024 ini, sebagai volenteer pernah bentrok dengan kegiatan lainnya?

Selama Euro 2024 ini, saya sudah enam kali menjalankan tugas sebagai volunteer. Pernah minta cancel karena bareng kuliah. Saya bilang, boleh enggak pas kuliah ngga terima shift. Oh boleh.

Bisa kasih tips dong gimana cara biar lolos wawancara dengan UEFA?

Kita perlihatkan kesungguhan. Saat interview cairkan suasana. Kita juga harus memberikan ekspresi yang friendly, jangan sampai mereka sudah capek menginterview ratusan orang, tapi jadi males melihat wajah yang tidak memperlihatkan kesungguhan.

Dari negara Asia negara mana saja yang menjadi volenteer?

Di sini ada orang Thailand, Vietnam, ada India, Pakistan, lalu negara Eropa seperti Malta, Kroasia, Yunani, atau Slovenia.

Ada juga dari Georgia, dan mereka bangga ya kesebelasan mereka main di sini.

Bagaimana awalnya sampai berada di Jerman?

Waktu itu cuma buat refreshing, biaya sendiri untuk ke sini.

Ada rasa takut awalnya?

Enggak sih, ngga takut, khawatir iya, terutama pas pandemi datang. Apakah Jerman keadaannya bisa baik-baik aja.

Lalu, karena berangkat dengan uang terbatas, jadi banyak kekhawatiran. Jadi side job sambil kuliah, harus seperti itu.

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat